Setelah membaca broadcast kemarin di grup WA tentang penipuan lewat telepon (maaf lupa ss broadcastnya), aku jadi kepikiran sama kasus yang juga pernah menimpaku beberapa bulan yang lalu. Kejadiannya di bulan Januari, dan sama-sama tentang pemerasan oleh oknum yang ngaku intel narkoba.
Wih masih ada aja ya penipu. Ck.
Ceritanya hari itu aku baru pulang kerja dan teman kantor yang bernama kak Ria minta ditemani ke daerah Hertasning. Aku, sebagai seorang maknae di kantor pastinya bersedia untuk ikut. Nah, berhubung banget karena baterai handphone ku kritis saat itu aku tinggal cas di rumah temen dulu. Karena ku pikir kita ga bakalan lama di jalan dan ya ngapain bawa hp kalau lobet (?) haha.
Sesampainya di sana aku cuma kebanyakan duduk bengong mendengarkan temanku ngeprospek ibu-ibu yang keliatannya seorang pegawai negeri dan baru pulang kerja. Agak nyesal sih kenapa ga bawa hape aja, haha padahal bisa numpang colokan di sana.
Hampir maghrib aku udah mulai gelisah tapi ngga enak sama temanku yang masih asyik membujuk ibu-ibu itu untuk beli produk herbalnya, ehm lebih tepatnya dirayu buat jadi member kaki tangannya. Dalam hati aku bersyukur cuma diminta untuk ditemani ke rumah target prospek daripada saya sendiri yang jadi target. No. Aku ngga bisa nolak permintaan teman haha.
Tapi kebengongan itu segera berubah ketika handphone temanku berbunyi. Karena doi masih sibuk bicara, jadi aku yang angkat teleponnya saja. Kaget, ternyata dari mama (mama memang biasa simpan nomor hp temanku buat jaga-jaga).
Jauh lebih kaget lagi setelah mama bertanya dengan suara melengkingnya yang mampu membuat satu RT ikutan panik. "kamu di mana?" "kamu tidak tahu bapak di sini menangis karena mengira kamu sedang ditangkap polisi karena ketahuan bawa obat-obatan waktu razia??"
HAH..
WHAT THE?
Dengan pikiran masih bingung aku berusaha untuk mengerti apa yang mama bilang. Tapi otak minimalis yang kadang lalod ini malah mengira aku jadi buron gara-gara disangka membawa obat terlarang. dan sialnya ya, saat itu di tasku ada obat-obatan herbal (you know peninggi-pelangsing-penggemuk) yang tak lain adalah produk mlm temanku tadi.
Dan lututku langsung gemetaran. tapi ga mau nangis karena lagi di rumah orang.
Dengan muka menahan air bah aku memotong acara prospek temanku dan memelas untuk dibawa pulang karena perasaanku benar-benar kacau. Temanku jadi ikutan bingung ada apa dan akhirnya setuju buat pamit saat itu juga.
Di perjalanan pulang yang kupikir cuma bagaimana bisa pulang ke rumah secepat mungkin. Aku takut kalau tiba-tiba ada polisi yang menyergap dan mengeluarkan borgol (?)
Karena bingung temanku maksa untuk diceritakan masalah apa yang terjadi dan kataku, tadi ada polisi yang menelepon bapak untuk menangkap saya karena membawa obat-obatan.
Tiba-tiba temanku itu menangis, dan terus-terusan istighfar. Aku jadi makin panik.
Setelah agak tenang temanku itu lalu bilang "ya ampun dek, bapak kamu kena tipu".
"Hah penipuan kak?"
Temanku lalu menceritakan waktu adiknya yang baru ikut pindah ke Makassar untuk kuliah juga pernah dikabarkan ditangkap polisi oleh seorang penelepon misterius dan meminta sejumlah tebusan untuk "uang damai". Beruntung orangtuanya belum mengirimkan.
Betul saja, waktu sampai di rumah dan mendengar cerita bapak persis dengan kasus yang dialami temanku itu. Dimintai segera transfer uang 5juta lah, ga boleh kasih tau orang lain dulu dan nada bicaranya maksa pake banget. Hebat ya, punya kemampuan bicara persuasif begitu kenapa ga jadi caleg aja sih pak.
Awalnya penelepon ngasih tau kalau aku sedang ditahan setelah kedapatan di bagasi motorku ada obat-obatan terlarang (heh sejak kapan aku punya motor). Kemudian biar lebih terdengar real si penelepon memperdengarkan suara perempuan dibelakang berteriak-teriak nangis "bapak tolong lepaskan saya, saya disiksa". Maka bapak siapa yang ga langsung panik mendengar suara persis kaya anaknya.
Bapak yang udah panik sambil nangis-nangis langsung meraih pulpen dan buku (buku sekolah adikku wkwkw) dan nulis "cepat panggil tetangga" biar mama yang pergi cari bantuan. Aku lagi nemenin teman prospek MLM, satu rumah heboh karena dikira aku ditangkap sama polisi.
Abis dari rumah untuk menenangkan bapak, aku kembali ke rumah teman ambil hp ku yang dicharger, ya ampuuunn misscalled sampe ada 50 lebih dari mama dan temen-temen. di grup WA juga pada heboh nanyain aku lagi di mana. Yang bikin malu tuh, ryan yang pada saat itu kami belum jadian sampai ngechat "ikha dimana? denger-denger ada dikantor polisi ya" gubrak! jatuh deh pamorku. Ternyata setelah ke rumah tetangga mama aku tancap gas ke rumah temen-temen kantor buat nyariin, dan gara-gara semua ga tau aku kemana, maka makin yakinlah mama kalau penipu itu benar huhu.
Satu-satunya hal yang kubingungkan adalah BAGAIMANA SI PENIPU TAU IDENTITAS KELUARGAKU SAMPAI KANTORKU DIMANA DIA TAU?? dan dapat nomor bapak ku tuh dari mana coba. Dasar Penipu.
Gais, kalau keluarga kamu mendapat telepon serupa, jangan pernah percaya ya kecuali polisinya emang benar-benar datang ke rumah beserta surat izin resmi. Ada baiknya sih diperingatkan sekarang bahwa penipuan bentuk begini masih marak. Biar tidak perlu kejadian ke kalian. Kasian orangtua yang anaknya merantau, kalau sudah panik uang 10 juta bakalan melayang.
Waspadalah karena penipu itu semakin kretif seiring perkembangan teknologi.
Take care of your family!
See you,


Tidak ada komentar:
Posting Komentar